Pengalaman Berkunjung ke Planetarium Cikini pada Long Weekend

Bertahun-tahun yang lalu, saat saya masih kuliah, saya dan teman-teman pernah mengunjungi Planetarium Taman Ismail Marzuki di Cikini, pada hari kerja. Saat itu pembelian tiket masih manual pakai uang tunai, lupa berapa tiketnya. Dan di dalamnya pun seru banget. Berangkat dari pengalaman saat itu, saya pun ingin membawa anak-anak saya menyaksikan pertunjukan di Planetarium Cikini, kebetulan hari Jumat itu tanggal merah, jadi long weekend

Kesulitan membeli tiket Planetarium Cikini

Dari Instagram resminya, katanya tanggal merah itu libur. Beberapa hari sebelum kunjungan, usaha pertama adalah membeli tiket secara online. Sayangnya, tiket sudah habis. Akhirnya pilihan jatuh pada pembelian langsung atau go show.

Kami tiba di lokasi sekitar jam 11, informasi dari petugas cukup sederhana:
  • Penjualan tiket offline dibuka pukul 13.00 untuk pertunjukan pukul 14.00
  • Pengunjung diminta untuk antre
  • Tidak menyebutkan soal kuota tiket offline. Ini yang jadi masalah utama.

Antrean panjang dan pinim informasi

Antrean sudah dimulai jauh sebelum loket dibuka. Banyak pengunjung rela menunggu cukup lama demi mendapatkan tiket. Dalam pengalaman ini, waktu antre mencapai sekitar dua jam.

Ketika pukul 13.00 tiba, antrean mulai bergerak. Tapi tiba-tiba dihentikan, bahkan ketika posisi tinggal beberapa orang lagi menuju loket. Situasi ini cukup mengejutkan, apalagi tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Baru setelah itu dijelaskan bahwa:
  • Setiap sesi menyediakan 100 tiket online dan 100 tiket offline
  • Kuota tiket offline sudah habis
  • Jika ada pemegang tiket online yang tidak datang, sisa kuota akan diberikan ke antrean offline pukul 13.45

Informasi ini seharusnya disampaikan sejak awal, bukan setelah pengunjung mengantre lama.


Ngarep pada kuota tambahan

Setelah mengetahui sistem tersebut, tidak ada pilihan selain menunggu lagi hingga pukul 13.45. Alhamdulillah ada tambahan sekitar 10 kursi dari tiket online yang tidak terpakai. Ini memungkinkan sebagian kecil pengunjung antrean offline tetap masuk.

Namun, proses ini terasa kurang efisien dan cukup menguras energi, terutama bagi yang datang dengan harapan pasti mendapat tiket.


Pengalaman menonton di Planetarium

Masuk ke ruang pertunjukan berkubah (dome), suasana cukup nyaman. Kursi dibuat rebah sehingga pengunjung bisa menikmati tayangan di kubah langit-langit.

Beberapa hal yang ditemukan di dalam:
  • Kursi rebah default, tidak bisa ditegakkan
  • Ada pemutaran iklan sebelum pertunjukan dimulai seperti saat akan menonton bioskop
  • Dilarang merekam, memfoto isi pertunjukan
  • Film tentang pengetahuan benda-benda langit seperti planet, bintang, galaksi, dan bahkan super galaksi

Secara konten, sebenarnya cukup edukatif. Visual juga menarik untuk yang baru pertama kali datang. Namun demikian, feel yang didapat justru terasa seperti menonton video edukasi di youtube. Bukan berarti buruk, tapi ekspektasi terhadap pengalaman “immersive” di planetarium jadi kurang terpenuhi.


Tips sebelum berkunjung ke Planetarium Cikini

Untuk teman-teman yang ingin berkunjung ke Planetarium Cikini, siapkan beberapa hal berikut ini: :
  • Usahakan datang pada hari kerja, kecuali Senin libur
  • Beli tiket online jauh-jauh hari
  • Datang lebih awal jika ingin mencoba antre offline
  • Siapkan waktu ekstra untuk antre
  • Jangan berekspektasi terlalu tinggi pada sisi hiburan


Planetarium Cikini tetap menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik di Jakarta. Namun, berhubung  sistem tiket dan antrean belum cukup baik, pastikan dapat tiket online sebelum ke sana. Kalau tujuan utamanya adalah edukasi ringan tentang luar angkasa, tempat ini masih layak dikunjungi. Tapi kalau mencari pengalaman yang benar-benar spektakuler, mungkin perlu menurunkan ekspektasi sedikit. 

Apakah teman-teman sudah mengunjungi lagi Planetarium Cikini ini? Bagaimana menurut teman-teman? Atau bahkan ada yang sudah berkunjung ke Planetarium lain yang lebih wow? Yuk share di kolom komentar. 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url